Liputan6.com, Jakarta – Perusahaan otomotif asal Tiongkok, BYD, kembali mencuri perhatian dengan menetapkan target ambisius, yaitu menjual sekitar 1 juta unit kendaraan energi baru (NEV) di pasar luar negeri atau ekspor hingga akhir 2025.

Dalam laporan CarNewsChina, General Manager Brand & PR BYD, Li Yunfei mengatakan, bahwa target ini berarti BYD berencana menggandakan volume penjualan luar negeri dibanding periode semester pertama 2025.

“BYD menargetkan untuk menjual sekitar 1 juta mobil energi baru di pasar luar negeri pada 2025,” ujar Li Yunfei secara langsung.

Pada semester pertama tahun ini, penjualan luar negeri BYD berhasil menembus lebih dari 472.000 unit, naik pesat dibanding rekor tahun lalu yang sebesar 417.204 unit.

Sementara itu, BYD saat ini telah menembus lebih dari 100 pasar global. Perusahaan tidak hanya ekspor dari China, tetapi juga mengoperasikan pabrik di beberapa negara, seperti Uzbekistan dan Thailand, serta berencana membangun fasilitas produksi di Turki, Hungaria, Brasil, dan sejumlah negara lain guna mengantisipasi hambatan tarif impor.

Sebagai ilustrasi, BYD mengirim lebih dari 900 unit Dolphin buatan Thailand ke Jerman, Belgia, dan Inggris, untuk menghindari tarif tambahan sebesar 20,7 persen di atas bea masuk 10 persen.

Keuntungan Penjualan BYD
Secara finansial, kontribusi penjualan di luar negeri bagi BYD sangat signifikan.

Menurut laporan dari Rhodium Group, BYD memperoleh laba bersih sebesar USD 5.000 per kendaraan yang dijual di Eropa, meski dikenai tarif tinggi.

Sementara itu, laba bersih per unit di dalam negeri Tiongkok mencapai sekitar 9.000 yuan (sekitar USD 1.260).

Penjualan global BYD pada paruh pertama tahun ini juga mencatat pertumbuhan kuat, sebanyak 2.458.914 kendaraan penumpang terjual secara global dalam tujuh bulan pertama 2025, naik 26,2 persen dibanding tahun lalu.

Meski demikian, pertumbuhan mulai melambat, terlihat dari penjualan bulan Juli yang hanya naik 0,1 persen secara tahunan, menjadi rekor pertumbuhan terlemah dalam 1,5 tahun terakhir.